
Kita semua pasti pernah merasakan tidak enaknya didiskriminasi. Entah karena warna kulit, bahasa, kelas sosial, bentuk fisik, bahkan seremeh asal sekolah. Kita hidup di dalam gelembung kita sendiri. Memilih untuk menikah dengan yang satu ideologi, bekerja dengan yang punya satu nilai, pilihan-pilihan yang kelihatannya positif pun rupanya adalah hasil dari diskriminasi pikiran kita.
Diskriminasi negatif yang kelihatan jelas tentu bisa langsung kita kasih label: rasis, chauvinis, seksis, misoginis, islamofobia, elitis, anti-semitism dll. Tapi diskriminasi yang berada di tingkat yang lebih halus kadang suka luput.
Goblok-goblokannya, kita mulai dari tingkat dunia, diskriminasi akan membuat sekat antara barat dan timur, kemudian sekat antar region (seperti SEA-blings kita), dalam negara lalu antar suku. Bagi saya di suku Jawa misalnya, ada sekat lagi antara Krama (bahasa bangsawan) & Ngoko (bahasa jelata). Di dalam keluarga raja atau kampung pun ada diskriminasi. Makanya Game of Thrones bisa sampai laku berjilid-jilid ya karena inses dan diskriminasi dalam keluarga.
Selalu ada pembanding. Pembanding itulah akar pikiran yang mendiskriminasi. Coba saja rasakan ketegangan, rasa cemburu dan iri saat kita tenggelam dalam doom-scrolling di instagram dan membanding-bandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Antidot iri hati dan rasa cemburu ini dalam Buddhisme dikenal dengan Mudita, atau sukacita simpatik. Kita jadi benar-benar merasa bahagia saat melihat orang lain sukses dan berhasil. Lepas dari keinginan “Aku juga bisa!” Atau “Aku bisa lebih dari itu!”
Namun akar diskriminasi paling halus ada di tingkat diri. Memandang diri sebagai satu entitas yang tidak pernah berubah. Bahwa dari bayi hingga misalnya saya di usia 40 tahun ini, adalah individu yang terpisah. Padahal hadirnya kita di saat ini dan di sini tidak pernah lepas dari segala yang ada di sekitar kita, mulai dari asupan fisik maupun mental. Akumulasi asupan-asupan itu sepanjang hidup kita.
Ini yang suka bikin kita frustasi. “Harusnya kan saya seperti target saya itu!”, atau “Harusnya saya bisa lebih baik dari sekarang!”, atau “Dulu kan saya lebih baik dari ini!”, selalu ada pembanding antara diri ini dengan masa lalu dan masa depan.
Penawar racun paling sempurna dari pikiran yang mendiskriminasi itu -yang kemudian melahirkan kemelekatan dan penolakan- rupanya adalah “pikiran pemula.” Istilah kerennya adalah “beginners mind”. Zen mind, beginner’s mind. Dalam zen, gelas yang penuh tidak pernah bisa diisi lagi. Akumulasi pengalaman bukan isi gelas.
Pikiran pemula, pikiran yang terbuka, selalu melihat segala sesuatu sebagai hal yang baru, tidak membanding-bandingkan. Pikiran itu akan hadir seperti anak kecil yang sedang terpesona, seperti waktu anak saya terkagum–kagum saat melihat bunga. Semua bunga berbeda saja, tidak ada yang tingkatannya lebih rendah atau tinggi. Semua tetap mengagumkan.
Misalnya, kalau saya memandang dunia sebagai ahli dokumenter yang sudah melihat Indonesia dari barat ke timur, pikiran saya akan semakin dangkal. Satu desa yang saya tinggalkan tahun lalu, sudah jadi desa yang 1000% berbeda di tahun ini. Lihat saja desa Canggu misalnya. Subyek dokumenter yang saya temui 2 tahun lalu, sekarang sudah pasti jadi manusia yang berbeda. Begitu pun dengan anak magang, kru, senior ataupun kompetitor bisnis di industri ini. Semua sudah berubah -dan pasti berubah- dari diri mereka kemarin sore. Jangankan kemarin sore, satu jam yang lalu pun bisa membawa perubahan fenomenal dalam diri kita.
Sehingga praktek melihat segala sesuatu apa adanya. Menerima present-moment, jadi praktek yang memang selalu relevan dan tidak pernah ketinggalan jaman. Karena segala sesuatu memang selalu berubah. Mungkin bosan sekali kita mendengar terus pengingat tentang mindfulness, kesadaran, untuk hidup di saat ini. Sudah seperti jam beker jebol atau burung beo. Tapi ini jadi reminder yang selalu relevan untuk diriku sendiri. Untuk selalu melihat ke inti diri, kembali ingat bahwa diri ini adalah tanpa-inti, tanpa-diri, anatman.
Dalam hidup sehari-hari, kadang saya punya lakon positif, kadang harus punya lakon negatif. Semua bukannya tanpa pilihan. Pertanyaan tentang KENAPA saya memilih, jadi selalu relevan. KENAPA pada akhirnya saya memilih lakon positif atau lakon negatif. Lakon jadi tidak penting, asal alasan dasarnya adalah welas asih. Lagi-lagi klise memang. Bosan juga kadang melihat kata-kata ini. Namun welas asih untuk semua makhluk memang relevan. Aksi diri yang tanpa ego memang selalu relevan. Praktek kesadaran dari hari ke hari tetap relevan.
Kesiman, Bali
24/09/2026