Mahatma Putra — documentary

Blog ·

Kebun Kecil Itu Indah

Esai / EssayLingkunganKontemplasi

Apakah sudah jadi pengetahuan umum bahwa fakta bahwa kedelai sebagai pakan ternak untuk ayam, sapi dan babi, adalah penyumbang utama kerusakan lingkungan dan kerusakan iklim? Bagi saya ini adalah pengetahuan dasar, dan saya sangat berharap paling tidak orang-orang terdekat saya, anak-anak muda dan para mahasiswa Indonesia yang akses informasinya lebih baik, mengerti hal ini dengan lebih mendalam. Bahwa untuk hidup dengan lebih sedikit makan daging, kita akan mengurangi dampak lingkungan secara drastik, dampaknya akan masif jika dilakukan secara kolektif.

Tidak sulit sama sekali bagi saya di tahun 2011 dulu untuk menjadi seorang vegetarian. Janganlah bilang untuk menjadi seorang vegetarian, kurangi saja konsumsinya, perbanyak makan sayur. Makanlah daging hanya untuk acara-acara besar saja. Makanlah dua kali saja sehari, tidak perlu sampai 3-5 kali. Selain sehat juga baik untuk sekitar. Apa yang kamu makan adalah kehidupan, setiap kamu mengambil banyak makanan, untuk memenuhi nafsu makanmu, kamu sedang mengambil kehidupan dan kesempatan hidup orang-orang lain, kesempatan hidup makhluk-makhluk lain. Ini baru satu sisi saja, tentang makanan.

Mungkin kelihatannya sepele, tapi bagi saya praktek utama memang datang dari praktek remeh temeh sehari-hari seperti ini. Kalau dalam kehidupanmu sehari-hari saja kamu belum bisa mengamati nafsu makanmu, mengurangi konsumsi makanmu, dan menyadari dampak dari apa yang kamu makan, bagaimana kamu bisa berkoar atau menyuarakan keadilan sosial misalnya. Saya tidak mengatakan vegetarianisme adalah jalan terbaik, tidak sama sekali. Apapun yang kita makan adalah makhluk hidup. Baik itu tumbuhan maupun hewan.

Memang penderitaan tumbuhan tidak ketara seperti penderitaan hewan, namun tetap saja itu adalah kehidupan dan lingkungan yang kamu ambil demi dirimu. Bahkan sumber pangan nabati yang asalnya dari perkebunan monokultur dan laboratorium berkali-kali lipat lebih merusak dan membawa penderitaan ekologi dibanding daging ayam kampung dari kebun belakang, atau ikan-ikan hasil tangkapan sendiri dari sungai yang masih jernih. Beruntunglah mereka yang masih punya akses-akses itu. Tapi berapa banyak sih dari kita yang masih punya akses ke ayam kampung dan sungai yang jernih? Bagi masyarakat urban sumber pangan selalu dari supermarket, dari pasar, dari restoran. Bahkan hal kecil seperti pilihan isi piringmu tiap hari ternyata besar dampaknya bagi dunia ini.

Masyarakat Indonesia pada umumnya rasanya sudah jadi penjaga iklim yang baik dengan konsumsi jejak karbon mereka yang rendah. Orang Jawa saja deh misalnya, masih lebih sering makan urap & pecel dibanding burger & hotdog. Orang Indonesia masih lebih suka dan bisa menghargai hasil pangan dari kebun sendiri daripada beli.

Dorongan-dorongan romantis untuk kembali berkebun, kembali bertani, kembali makan dari hasil tanah sendiri, adalah dorongan-dorongan yang valid. Semakin hari masyarakat urban semakin punya fantasi untuk kembali ke desa, hidup lebih lambat. Valid.

Memang jadi sebuah kemewahan untuk bisa hidup lepas dari sistem ini. Mewah bukan berarti kita harus punya uang. Hanya butuh keberanian. Keberanian untuk kembali menjadi petani, untuk punya lebih sedikit uang, hanya bergantung pada kebun dan tanahmu sendiri, untuk hidup lebih sederhana dan apa adanya. Pangan lokal yang menciptakan siklus tertutup di kebun kecilmu dan daerahmu pasti lebih baik. Kebun kecil saja, masyarakat kecil saja. Kecil itu indah.

Namun hingga kini aku sendiri masih belum bisa punya keberanian akan kemewahan itu.

Pertama kali terbit 4 November 2026.