
Akhir Maret dan awal April ini adalah salah satu masa yang sulit dan berat bagi saya. Harus membuat keputusan yang berat untuk tim Anatman Pictures. Harus membuat keputusan yang berat untuk keluarga saya.
Semua orang yang kenal saya pasti tahu saya itu orang yang emosional, pemarah. Saya sudah kenal sekali dengan sensasi kemarahan yang sering timbul. Selain kemarahan, emosi lain yang saya sudah sangat akrab antara lain adalah: anxiety, panik, takut.
Belakangan ini saya selalu bisa menyadari segala perasaan yang muncul, salah satunya ya adalah kemarahan itu sendiri, tapi sekarang saya selalu bisa punya jeda sejenak untuk mengamati kemarahan sebagai kemarahan, mengamati di mana letaknya sebagai sensasi di tubuh. Kemarahan biasanya saya rasakan di perut, ulu hati, dan menjalar di punggung atas. Anxiety dan rasa takut juga dari perut kemudian menjalar ke perut bawah. Panik dan gelisah rasanya banyak di telapak tangan, kadang bisa sampai kesemutan.
Dengan mengamati kemarahan yang bermanifestasi di pikiran & tubuh, lebih mudah untuk tidak meledak dengan kemarahan tersebut. Kalaupun sempat terekspresikan, saya sekarang sadar saya harus memadamkan api di dalam rumah saya dulu, daripada lari mengejar pelaku pembakar rumah saya dan membiarkan rumah saya terbakar.
Saat-saat yang berat ini, keputusan-keputusan berat yang akhirnya saya ambil ini, kemudian mengenalkan saya kepada emosi baru: kesedihan & empati. Bentuk-bentuk emosi yang jarang saya alami.
Kesedihan itu sensasi fisiknya terasa di dada menjalar naik ke leher, keluar lewat nafas & air mata, sama dengan empati setiap kita bisa merasakan kesedihan dan kesulitan orang.
Selamat berkenalan, salam damai, emosi-emosi baru.
#anicca #dukkha #anatman *Tim Anatman Pictures sementara semua bekerja dari rumah hingga bumi & umat manusia sembuh.








