Mahatma Putra — documentary

Blog ·

Karantina dengan Privilege di Australia

Instagram

Karantina dengan Privilege di Australia - PART 1 of 3

Sudah hampir dua minggu saya mengamati perasaan bersalah karena meninggalkan Indonesia di masa-masa sulitnya, di masa pandemi global ini. Hari ini akhirnya saya bisa benar-benar mengamati perasaan bersalah itu dan berdamai dengannya. Saya tidak menyangka saya punya kelekatan yang begitu dalam dengan negara saya, kota saya, orang-orang di dalamnya. Seringkali mengeluh dengan kondisi Jakarta, kondisi masyarakat Indonesia, tetap saja Indonesia adalah negara dan rumah saya sendiri. Apalagi makanannya, siapa orang Indonesia yang tidak mengepak mie instant dalam koper setiap pergi jauh?

Sudah hampir dua minggu saya berada di Australia, dan sedang menjalani masa 2 minggu karantina oleh pemerintah Australia.
Sejak tahun lalu, referensi saya dalam melihat dan menilai negara-negara di dunia adalah Factfulness-nya Hans Rosling, atau kalau di web bisa lihat Gapminder.org. Sebenarnya sudah tidak ada lagi istilah “negara maju” dan “negara berkembang”, Bill Gates, Obama, bahkan UN sudah memakai istilah negara Level 1-Level 4 untuk menilai kemakmuran suatu negara. Tidak ada gap yang besar lagi antara “negara maju” dan “negara miskin”, dunia ini bergerak ke arah yang lebih baik dan positif di semua lini, kecuali global warming.

Australia adalah negara level 4. Dua minggu karantina di negara level ini membuat saya angkat topi dengan segala fasilitas yang diberikan pemerintah bagi warga negaranya. Saya mendapatkan privilege yang sama dengan istri saya yang adalah warga negara Australia dalam masa karantina ini.

Sesampai di airport Melbourne kami semua langsung di cek temperatur, digiring untuk mengisi bermacam-macam form dengan jarak physical distancing yang sangat ketat, ditanyakan “kamar seperti apa yang kalian mau?”, kami jawab, “dua kamar dengan connecting door”, “dietary restriction?”, “vegetarian”. Kemudian kami pergi dengan bus yang di charter pemerintah untuk ke hotel karantina. Satu bus hanya untuk tiga keluarga, hanya delapan orang dalam satu bus, untuk menjaga physical distancing.

#factfulness


Karantina dengan Privilege di Australia - PART 2 of 3

Sampai di hotel. Sheraton. Dua kamar, empat belas hari. Saya pikir dengan uang sendiri pun tidak akan pernah sudi saya menginap di hotel sekelas ini, dua kamar dengan connecting door pula! Makan disediakan gratis dua kali. Siang & Malam. Tidak boleh keluar sama sekali dari kamar. Pintu hanya boleh dibuka untuk mengambil makanan dan membuang sampah. Setiap lantai dijaga polisi. Setiap kali membuka pintu ada polisi yang langsung melirik.

Saya tidak akan mengeluh sama sekali dengan karantina ini, walaupun ada beberapa hal yang memang tidak mengenakkan. Menurut saya karantina ini adalah sebuah kemewahan, yang bahkan membakar rasa bersalah saya setiap saya melihat kota Melbourne yang makmur dari jendela kamar hotel saya ini. Sebuah privilege bagi warga negara Australia yang berada di level 4 ini, bukan sesuatu yang seharusnya saya terima. Betulkah? Setidaknya itu yang awalnya saya pikir.

Kemudian saya teringat perjalanan saya ke Papua New Guinea di tahun 2015. Saat itu saya shooting dua minggu di Port Moresby untuk membuat iklan Coca Cola. Saya teringat betapa saat itu tinggal dalam dua minggu yang chaos.Saat itu sedang ada kerusuhan dan blokade, sehingga listrik sering mati. Security dan bodyguard kemanapun kami pergi. Mobil kami ditikam pisau. Melewati beberapa daerah hanya bisa di siang hari, karena penembakan beberapa minggu sebelumnya. Kebut-kebutan di mobil saat pabrik Coca Cola setempat dirampok. Mengikuti security training bagaimana jika kendaraan dirampok. Dikerumuni warga yang marah saat shooting dan security guard yang panik.

Sepulang dari sana kami merasa tinggal dan menjadi WNI itu adalah sebuah privilege. Tinggal di Indonesia yang aman, tenteram, damai, makanannya enak. Sesuatu yang seharusnya sudah kami dapatkan sebagai WNI. Betulkan?

Apakah wajar saat kita merasa bangga dan bahagia dengan kenyamanan yang kita miliki? Sementara kita tahu pasti bahwa ada negara lain, masyarakat lain, manusia-manusia lain yang punya kesulitan yang jauh lebih hakiki?

#factfulness
Photos:
1. Darurat. Mie Instant DAAI pakai bubuk kencur & kunyit. Delivery daun bawang.
2&3. Sheraton Melbourne.
4. Port Moresby 2015.


Karantina dengan Privilege di Australia - PART 3 of 3

Indonesia memang tidak semakmur Australia. Indonesia berada di level 3. Jauh di atas banyak negara lain di dunia. Bukan berarti harus bangga dengan pencapaian taraf hidup yang lebih tinggi dari India, Filipina, Mesir, Moroko dll (gapminder.org), dan bukan juga harus merasa minder karena juga di bawah level banyak negara lain seperti Brunei, Singapore, Australia dll. Selama ada manusia dan negara yang hidup di level 1 dan 2 sepertinya tidak layak bagi kita semua untuk menikmati privilege yang ada di level 3 maupun 4. Karena memang uang membawa kebahagiaan. Manusia tidak bisa bahagia tanpa basic needs, tanpa sandang, pangan, papan.

Sebelum manusia sampai di penghasilan awal level 3 (penghasilan $8 per hari, kira-kira 2,5 juta per bulan), akan susah bagi manusia untuk bisa bahagia karena bahkan untuk kebutuhan utama seperti makan, tempat tinggal, keamanan, pendidikan, transportasi, tempat tidur, rekreasi, belum bisa tercukupi. Namun sampai di awal level 4 ke atas (penghasilan $32 per hari, kira-kira 8 juta per bulan), tidak tingkat kebahagiaan tidak akan bisa naik lebih jauh lagi. Uang hanya bisa membawa kebahagiaan sampai ke tingkat tertentu, utamanya basic needs. Bahagia pada akhirnya akan kembali ke dalam diri.

Jadi apakah saya bahagia dan bangga dengan kelekatan saya sebagai WNI? Atau saya merasa bersalah dengan menikmati privilege negara level 4? Ataukah kita semua tidak layak untuk menikmati privilege apapun selama masih ada manusia yang menderita di level 1 & 2? Semua jawabannya lagi-lagi ada di Keheningan, bukan pada kata-kata yang diketik untuk mencari pembenaran.

#factfulness

Pertama kali terbit 23 April 2020 di Instagram @kebunmeditasi.