
Saya takut dengan virus Corona. Itu langkah pertama saya, untuk mengakui rasa takut saya. Dengan mengakui, saya sadar akan rasa takut saya, kemudian saya bisa dengan sadar merasakan perasaan takut tersebut. Lalu kesadaran itu membawa saya kepada jarak dimana saya bisa hanya sekedar menyadari dan mengamati perasaan tersebut, tanpa melekat pada rasa takut, rasa panik, rasa cemas itu. Semua perasaan itu masih ada, namun di saat yg sama, hilang dengan sendirinya. Bahasa mudahnya, bisa berpasrah diri, berserah.
Bagi saya, berpasrah diri, berserah total, bukan berarti harus ditujukan kepada suatu sosok Supreme Being. Saya sendiri tidak mempercayai sosok Supreme Being dan Afterlife. Saat saya berpasrah total, saya berserah sepenuhnya pada Saat Ini & Di Sini, pada Semesta, pada Realitas Apa Adanya, bukan pada suatu sosok.
Menurut saya tidak ada bedanya, saat manusia bisa berserah total, entah pada suatu sosok Supreme Being atau seperti saya hanya berserah tanpa sosok, rasa damai dan cinta yg dalam akan hadir dengan sendirinya. Ingat apa arti kata Islam? Islam = berserah diri.
Bagi anak-anak, rasa tidak takut, rasa cinta itu natural, berbeda sekali dengan orang dewasa. Saat kemarin saya dan Samudra bermain hujan-hujanan, saya teringat Maria Montessori. Di bukunya The Absorbent Mind, dia memberi beberapa contoh, anak-anak usia 3-6 tahun yang dituntun untuk bisa mendengarkan alam raya, secara natural tidak pernah takut dengan sakit flu karena hujan dan dingin, secara natural menjadi pecinta binatang, pecinta tumbuhan & menjadi vegetarian secara alami.
Saat diberi kesempatan, beberapa saat saja hening, akan sangat jelas suara tuntunan alam semesta, bahkan bagi kita orang dewasa.


