Saat saya berbicara tentang kesadaran (ataupun mindfulness), makna yang saya utarakan sangat jauh dari pengertian religius, apalagi konsep kesucian dan dosa. Kesadaran bagi saya adalah sesuatu yang sangat sekuler, sangat praktikal dan tidak mempunyai nilai (nilai benar vs salah, nilai baik vs buruk). Sadar itu semudah diam sejenak, merasa sejenak, berpikir sejenak.
Sejak kuliah hingga saat ini, saya adalah orang yang skeptis dan tidak religius. Saya lebih senang berfilsafat, bertanya-tanya tentang hidup ini dan merenung dalam sepi. Saya selalu tertarik dengan macam-macam filsafat barat dan timur, dan selalu merasa dekat dengan konsep spiritualitas kepercayaan populer yang ada, mulai dari konsep kebatinan Jawa, mitologi para yogi, sufisme Islam para mullah, mistik Kristiani para santo dan santa, filsafat Buddhist para avatar.
Namun di saat yang sama saya sangat sadar akan tidak relevannya semua konsep spiritualitas tersebut saat dikultuskan dan dijadikan sebuah sistem sosial.
Satu benang merah dari semua spiritualitas yang ada itu adalah: saat direnungi secara personal kemudian itu akan membuahkan kesadaran yang dalam, pencerahan-pencerahan personal, kedamaian-kedamaian personal, dan cinta kasih yang dalam lahir dengan sendirinya.
Benang merah yang lain adalah: saat semua orang dipaksa untuk menerima pencerahan yang sama, nilai yang sama, kedamaian dan cinta kasihnya hilang. Tidak ada lagi energi kesadaran di situ. Pencerahan berubah menjadi doktrin. Cinta kasih menjadi teror dan rasa takut.
Spiritualitas yang sehat (yang tidak memaksakan hasil perenungannya kepada manusia lain), tidak akan perlu afirmasi dari siapapun untuk merasa damai dan bahagia. Tidak perlu label apapun untuk merasa menjadi bagian dari sesama dan planet ini. Tidak perlu kitab untuk mencintai.
Selamat menyaksikan Heal The World eps. 2, Mens Sana in Corpore Sano.
Terima kasih @rezagunawan @adelinewindy @ryuhasan @elzastrouw untuk perenungannya ❤️🙏🏽❤️