Mahatma Putra — documentary

Blog ·

Dharma Pagi Hari

Esai / EssayKontemplasiPersonal

Dharma artinya macam-macam. Arti paling umumnya adalah kebaikan. Ada juga yang artinya adalah ajaran kebaikan (dari Sang Buddha atau dari para resi dan orang suci Hindu). Namun arti yang lebih luas dari Dharma adalah kenyataan. Kenyataan yang ada di dalam diri dan kenyataan yang berada di luar diri. Kadang saya juga bingung apa batas kenyataan di dalam diri dan di luar. Yang membedakan hanya kulit yang tipis ini? Batas antara dunia di dalam dan dunia di luar?

Bangun pagi dengan rasa damai dan tidak terburu-buru adalah dharma. Melihat kenyataan apa adanya. Kegiatan pagi yang sepintas terasa terulang setiap hari, tapi sebenarnya tidak pernah sama. Setiap hari selalu berubah.

Bagi kita yang menjalani mungkin terasa selalu sama seperti Groundhog Day dan kadang membuat batin gerah dan mengeluh. Seperti pakde Putra yang dulu setiap hari harus bangun pagi dan siap-siap, mengantar Samudra ke TK. Rasanya capek sekali bangun pagi dan buru-buru ke sekolah. Tapi sekarang banyak rasa menyesal karena dulu tidak bisa 100% hadir dalam kenyataan, dalam Dharma. Dulu selalu berpikir gimana selanjutnya, kapan meeting, kapan shooting, kapan dapat project berikutnya. Malah menikmati pagi seutuhnya tidak bisa. Padahal masa TK Samudra hanya terjadi satu kali. Kadang berandai, jika dulu sudah benar-benar praktek Dharma mungkin masa depan dan masa lalu yang sudah dilewati ini berubah.

Senang sekali melihat Putri, Rio & Kirana pagi-pagi bisa lebih tenang, tidak diburu waktu dan kemacetan. Ada waktu untuk bangun perlahan, makan & mandi tidak diburu-buru, masih bisa main dan baca buku dulu. Sedangkan papa Agung sudah berangkat kerja jam 5.30 saat pakde Putra masih tidur di sofa.

Memang bagi orang-orang yang berjarak dengan kenyataan sehari-hari kita sendiri, rasanya waktu berjalan terlalu cepat. “Eh, Samudra sudah besar! Tidak terasa!” sepertinya makin relevan saya rasakan. Waktu berjalan terlalu cepat. Tiba-tiba Kirana sudah bisa jalan! Sedangkan sepertinya baru kemarin aku lulus SMA. Mungkin memang artinya sekarang makin tua.

Nikon FE · Fuji 400 & Portra 160

Morning Dharma

Originally written in Bahasa Indonesia

Dharma has many meanings. The most common one is goodness. It can also mean the teaching of goodness (from the Buddha, or from Hindu sages and holy people). But in a wider sense, Dharma means reality. The reality inside us, and the reality outside us. Sometimes I am also confused about where the line is between the reality inside and the reality outside. Is it only this thin skin that separates them? The border between the world inside and the world outside?

Waking up in the morning feeling calm and not in a hurry is dharma. Seeing reality as it is. Morning routines look like they repeat every day, but they are never really the same. Every day is always changing.

For those of us living it, every day may feel the same, like Groundhog Day, and sometimes it makes the mind restless and full of complaints. Like Pakde (uncle) Putra, who used to wake up early every day, get ready, and take Samudra to kindergarten. It felt so tiring to wake up early and rush to school. But now I have a lot of regret, because back then I could not be 100% present in reality, in the Dharma. I was always thinking about what came next: when is the meeting, when is the shoot, when will the next project come. I could not even enjoy the morning fully. And Samudra's kindergarten years only happen once. Sometimes I imagine: if I had really practised the Dharma back then, maybe the future, and the past I have already lived through, would have been different.

It makes me very happy to see Putri, Rio & Kirana have calmer mornings, not chased by time and traffic. There is time to wake up slowly, to eat and bathe without rushing, and still play and read a book first. Meanwhile papa Agung had already left for work at 5.30, while Pakde Putra was still asleep on the sofa.

For people who live at a distance from our own daily reality, time really seems to move too fast. “Oh, Samudra is so big now! Time flies!” feels more and more true to me. Time moves too fast. Suddenly Kirana can walk! And it feels like I only finished high school yesterday. Maybe it just means I am getting older.

Nikon FE · Fuji 400 & Portra 160

Eyang memangku Kirana di pagi hari
Selamat pagi Eyang & Kirana. Jam 7 pagi mulai bangun. Pagi hari di Bintaro Sektor 2. Pakde Putra semalam menginap di rumah Rio & Kirana, tidur di sofa depan nyenyak sekali.Good morning, Eyang (grandma) & Kirana. The day starts at 7 in the morning. Morning in Bintaro Sektor 2. Pakde Putra stayed over last night at Rio & Kirana's house and slept very well on the sofa in the front room.
Rio dan Kirana disinari matahari pagi
Rio dan Kirana disinari matahari pagi, sebelum bersiap-siap untuk kegiatan pagi hari sebelum berangkat ke sekolah.Rio and Kirana in the morning sun, before getting ready for the morning before school.
Rio melihat ke dalam kamera TLR, Eyang Madu mengajak Kirana ngobrol
Pakde Putra datang membawa kamera jadul, bahkan foto ini pun dipotret menggunakan kamera Nikon FE peninggalan Pakde Tio, yang berarti adalah mbah dari Rio & Kirana juga. Tapi Pakde Tio itu yang membesarkan Kakek Harry Poernomo, jadi sebenarnya bisa dibilang Pakde Tio itu adalah eyang buyut dari Rio & Kirana. Sampai hari ini kameranya masih bisa melihat dan menangkap cucu-cucunya di 2026. Rio sedang melihat refleksi terbalik yang ada lewat kamera mirror TLR (Twin Lens Reflex) itu. Eyang Madu sedang mengajak Kirana ngobrol. Pagi hari yang santai.Pakde Putra came with old cameras. Even this photo was taken with the Nikon FE left by Pakde Tio, who is also a grandfather to Rio & Kirana. But Pakde Tio was the one who raised Grandpa Harry Poernomo, so you could say Pakde Tio is Rio & Kirana's great-grandfather. To this day his camera can still see and capture his grandchildren, in 2026. Rio is looking at the reversed image in the mirror of the TLR (Twin Lens Reflex) camera. Eyang Madu is chatting with Kirana. A relaxed morning.
Rio memegang kamera TLR Seagull, Kirana memegang bungkus film
Rio memegang kamera TLR Seagull buatan China. Kamera ini adalah kamera bajakan dari Rolleiflex, tidak terlalu populer karena brand-nya tulisan China yang terlihat tidak elegan. Namun sebenarnya kualitas lensa dan mekaniknya sangat baik. Kamera ini mungkin sepantaran bahkan lebih tua dari Nikon FE peninggalan mbah uyut Tio. Kirana mulai penasaran dan eksplorasi bungkus film 35mm, ikut-ikutan mas Rio.Rio is holding a Seagull TLR camera made in China. It is a copy of the Rolleiflex, and not very popular, because the brand name is written in Chinese and does not look elegant. But its lens and mechanics are actually very good. This camera may be as old as, or even older than, the Nikon FE left by great-grandfather Tio. Kirana is getting curious and exploring a box of 35mm film, copying her brother Rio.
Rio dan mama sikat gigi
Rio dan mama sikat gigi dulu di pagi hari setelah mandi.Rio and mama brush their teeth after their morning bath.
Fotografer berswafoto lewat kaca sambil sikat gigi
Pakde Putra tidak bawa sikat gigi, untung punya sikat gigi yang ditinggal di rumah Rio & Kirana. Sekalian selfie fotografernya juga lewat kaca.Pakde Putra did not bring a toothbrush. Luckily he had one left at Rio & Kirana's house. A selfie of the photographer in the mirror, too.
Kirana sikat gigi sendiri
Kirana tidak mau kalah, harus ikutan sikat gigi sendiri.Kirana does not want to be left out. She has to brush her own teeth too.
Rio bersisir
Rio bersisir sendiri sebelum berangkat sekolah.Rio combs his own hair before school.
Eyang Vik di ruang tengah rumah Bintaro
Minggu ini ada Eyang Madu & Eyang Vik. Rumah Bintaro jadi rame.This week Eyang Madu & Eyang Vik are here. The Bintaro house is full and lively.
Rio bermain telepon mainan
Rio sedang meniru aktivitas pagi orang dewasa, pakai mainan hp analog anak-anak yang hanya bisa mengeluarkan bunyi-bunyian telepon.Rio is copying the grown-ups' morning routine with a children's toy phone that can only make phone sounds.
Kirana mondar-mandir di depan pintu
Kirana mondar-mandir di depan pintu.Kirana walking back and forth by the door.
Membaca buku bersama sebelum berangkat sekolah
Pagi hari masih ada waktu untuk membaca buku bersama sebelum berangkat sekolah. Masuk sekolah jam 8.30 pagi. Jadi waktu pagi lebih santai dan tidak stress, apalagi perjalanan ke sekolah hanya 5 menit saja.In the morning there is still time to read a book together before school. School starts at 8.30 a.m., so the mornings are more relaxed and less stressful. And the drive to school is only 5 minutes.
Mama membaca buku bersama Rio dan Kirana
Membaca buku bersama, yang didapat dari sekolah mas Rio. Setelah membaca, mama bertanya 5W (What, Who, When, Where, Why) dari buku cerita bahasa Inggris tersebut. Tidak pakai H (How), karena terlalu sulit kata guru sekolah Rio. Mungkin nanti pas sudah pada jadi jurnalis baru pakai 5W1H, hehe.Reading a book together, one that came from Rio's school. After reading, mama asks the 5W (What, Who, When, Where, Why) about the English storybook. No H (How), because Rio's teacher says it is too hard. Maybe they will use 5W1H later, when they become journalists, hehe.
Kirana membaca buku di area bermainnya
Kirana jelas tidak mau kalah hehe. Membaca buku sendiri juga sekarang di daerah kekuasaannya. Tidak ada orang yang boleh duduk di kursi singgasananya (terlihat di sebelah kiri).Of course Kirana does not want to be left out, hehe. Now she reads her own book in her own territory. Nobody is allowed to sit on her throne (on the left).
Rio membaca bersama eyang, Kirana di area bermainnya
Akhirnya mas Rio membaca bersama eyang, Kirana membaca di dalam daerah kekuasaannya.In the end Rio reads with Eyang, and Kirana reads inside her territory.
Rio di mobil, Kirana di kursi bayi
Persiapan mengantar Rio ke sekolah. Kirana duduk di kursi belakang pakai baby seat. Biasanya tidak ada Eyang Madu & Eyang Vik, jadi semua dilakukan serba sendirian. Beberapa hari ini lumayan ada bala bantuan mengurus 2 anak.Getting ready to take Rio to school. Kirana sits in the back in a baby seat. Usually Eyang Madu & Eyang Vik are not here, so everything is done alone. For the last few days there has been some extra help with the 2 kids.
Rio mengecup Eyang Vik sebelum berangkat ke bandara
Hari ini Eyang Vik pergi ke India untuk mengurus ibunya yang sakit. Rio mengecup perpisahan dulu sebelum Eyang Vik pergi ke airport pagi ini.Today Eyang Vik is going to India to take care of his mother, who is sick. Rio gives him a goodbye kiss before Eyang Vik leaves for the airport this morning.
Putri mengusapkan tanda salib ke dahi Rio
Putri mengusapkan tanda salib ke dahi Rio, kebiasaan yang diturunkan dari Eyang Madu kepada anak-anaknya. Memberi berkat saat perpisahan.Putri traces the sign of the cross on Rio's forehead, a habit passed down from Eyang Madu to her children. A blessing when saying goodbye.
Rio melambaikan tangan di gerbang sekolah bersama gurunya
Mas Rio sampai sekolah. Melambaikan tangan kepada kami semua bersama gurunya. Mas Rio siap belajar lewat pendidikan berbasis Montessori yang membuatnya selalu semangat belajar!Rio arrives at school and waves to all of us, together with his teacher. Rio is ready to learn through Montessori-based education, which always makes him excited to learn!

Pertama kali terbit 11 Oktober 2026.