BERDAMAI DAN TANPA TUJUAN
Bagaimana kita bisa bisa hidup dengan segala permasalahan lingkungan & sosial di sekeliling kita? Bagaimana tidak bersedih sepanjang waktu sementara manusia-manusia lain, makhluk-makhluk lain, dan bumi ini, sekarat secara fisik & mental? Bagaimana tidak terbunuh rasa bersalah sepanjang hari? Bagaimana kita bisa tetap menikmati makan & kenyang? Merasa aman & nyaman? Bagaimana kita bisa tetap tidur nyenyak, tahu bahwa milyaran manusia dan makhluk lain menderita tak berkesudahan? Bagaimana bisa memaafkan diri sendiri, tahu bahwa apa yang kita konsumsi adalah bagian dari sistem yang menghancurkan?
Segalanya sementara, termasuk penderitaan dan kebahagiaan. Melekat itu bukan hanya dengan kebahagiaan dan kesenangan, kita juga bisa melekat dengan penderitaan, melekat dengan rasa bersalah, melekat dengan amarah, melekat dengan kesedihan. Untuk aku, ini kemelekatan yang jauh lebih dalam dibandingkan kemelekatan terhadap kesenangan-kesenangan. Dengan menyadari bahwa penderitaan itu sementara, tidak kekal, menyadari bahwa umat manusia, semua makhluk, bahkan bumi ini pun tidak kekal, membawa kedalaman yang baru dalam caraku melihat.
Dengan kesadaran tentang ketidakkekalan, aku tidak malah menjadi pesimis. Semua yang aku lakukan menjadi aksi tanpa tujuan. Segalanya tidak perlu arti, tidak perlu goals. Segala aksi jadi penuh kepasrahan & kasih sayang, seperti saat berulang-ulang-ulang-ulang kali mengajari anakku untuk mencuci piring. Rasanya sia-sia. Eh kemudian ada kejutan, setelah bertahun-tahun tida-tiba anakku mencuci piring sendiri.
Dengan tahu bahwa untuk setiap plastik yang aku pilah, akan ada orang lain yang membuang sembarang; untuk setiap pohon yang kutanam, akan ada orang lain yang menebang; untuk terus menulis tanpa ada yang membaca; untuk terus membuat film tanpa ada yang menonton; untuk terus berkicau tanpa ada yang mendengarkan; itulah hidup tanpa tujuan. Selalu ambil bagian. Selalu mengembara, selalu berkelana, selalu melangkah, tapi juga selalu sampai setiap saat. Sampai dari waktu ke waktu. Selalu gelisah dari waktu ke waktu, namun di saat yang sama menjadi damai dari waktu ke waktu.
*thanks u/ VO spontannya @aninditadita