
Rasisme di Australia (Part 1)
Indahnya hidup di desa Cowes, Phillip Island. Dikelilingi pantai yang indah, udara segar, dan orang-orang tua yang ramah.
Desa ini sangat sepi. Rata-rata penduduk Cowes adalah orang tua pensiunan. Saya terkejut dengan betapa ramahnya beberapa orang, selalu terseyum dan menyapa setiap betemu.
Namun hari ini saya juga terkejut akhirnya bertemu juga dengan orang tua yang rasis. Sudah menjadi stereotipe umum bahwa orangtua (baca: 60 tahun ke atas) di Australia rata-rata rasis, namun baru kali ini mengalami secara langsung.
Saya sedang makan di depan toko roti langganan, yah otomatis saya tidak pakai masker, karena sedang mengunyah di samping pintu mobil. Tiba-tiba ada orang tua datang menghampiri saya. Saya pikir mau menegur karena saya tidak pakai masker, oh tapi ternyata dia ngajak bicara.
“Where do you come from?”
Langsung saya pikir, wah, ini orang tua yang seperti biasa lagi, yang kesepian, ramah dan mau mengajak berbincang-bincang.
Saya jawab bahwa saya dari Indonesia, dari Jakarta. Langsung dia berkata,
“I lived in Singapore before. You’re not a Muslim right?”
Saya jawab,
“I’m not, but my father is a Muslim.”
Dia berkata lagi,
“Thank god. You know, Muslims wants to take over this country! Muslim is the roots of evil and all terrorism in the world.”
Lho. Sontak saya kaget. Apa-apaan nih. Ternyata orang ini benci dengan Islam. Spontan saya jawab,
“I don’t think so … ” (kemudian berpikir untuk buka diskusi tentang Lautan Cinta-nya Rumi, sufisme, Cak Nun dkk…)
Dia malah ngotot.
“I know so!”, kemudian melengos.
Apa kira-kira yang ingin ia disampaikan? Hanya ingin berekspresi mengungkapkan kebencian kepada mereka yang tidak sama dengan dia? Ingin membuat saya yang warna kulitnya beda dengan wajah Asia Tenggara ini tidak nyaman di “daerah”-nya?
Sekilas langsung muncul pikiran, “Dia dangkal, dia bigot, dia rasis, dia tidak mengerti Islam, dia dsb..”, dan istri saya langsung bertanya, “Kalau tadi kamu jawab, ya, saya Muslim, kira-kira apa yang akan terjadi?” Anak saya bertanya, “Kenapa dia tidak suka Muslim?”
📷 Seorang bapak tua duduk sendirian dekat toko roti langganan. Ini foto lama, bukan foto si bapak tsb.

Rasisme di Australia (Part 2)
Sudah beberapa bulan ini saya tidak memikirkan persoalan politik identitas. Saya semakin tidak ambil pusing dengan berbagai identitas ras, suku, negara, agama, budaya, bahasa, dll, karena jelas masalah utama dunia sekarang ya masalah LINGKUNGAN. Kalau es kutub meleleh, semua ras, semua agama kena. Kalau biodiverstias hilang, yang kena dampaknya bahkan semua makhluk, bukan cuma manusia. Deforestasi dampaknya seperi COVID-19 ini ya jelas semua negara kena. Kesadaran sampah plastik itu ya jelas jauh lebih krusial dibanding lagi-lagi diskusi masalah ideologi.
Setelah diendapkan sedikit, rasa kesal itu berubah jadi rasa kasihan. Bayangkan kalau diri ini nanti menjadi setua itu, apakah akan masih lekat dengan rasa benci? Seperti apa masa depan yang akan saya hadapi nanti? Apakah mungkin akan ada satu tragedi yang merubah cara saya memandang hidup ini? Mungkinkan hidup ini dan hati ini kemudian penuh kebencian kepada sebuah kelompok atau ideologi?
Mungkin di masa depan saya akan menjadi orang tua renta pembenci suatu kelompok, atau mungkin saya menjadi orang tua bijaksana, duta cinta antar makhluk. Muncul rasa bingung dan khawatir akan masa depan. Padahal keajaiban hidup hanya ada di saat ini.
Amati saja perasaan yang muncul Saat Ini. Amati saja pergerakan nafas yang terpengaruh emosi.
Amati bahwa kebencian itu adalah saya, pak tua itu adalah saya, rasa benci yang timbul di hatinya sama dengan rasa benci yang bisa timbul di hati semua manusia, termasuk saya. Tidak ada bedanya antara pak tua itu, dengan bapak-bapak tua lain di Indonesia. Tidak ada bedanya antara white supremacist, Islam garis keras, Atheist garis keras, Kristen garis keras, Buddhist garis keras. Tidak ada bedanya mereka semua, pun dengan saya. Semua manusia punya bibit membenci, dan bibit mencintai, tidak peduli apapun identitasnya.
Alam semesta berbicara lewat pak tua itu, bahwa kebencian itu ada di mana-mana, namun antitesis kebencian juga hadir di setiap saat. Tarik nafas, rasakan indahnya energi tarikan nafas. Buang nafas, rasakan indahnya melepaskan semua beban, melepaskan semua pikiran dan berpasrah.
Kembali ke Saat Ini.
📷 Ini dia ketemu foto toko rotinya.