
Agamamu apa? Percaya Tuhan atau tidak?
Wah, kalau mau ngajak ngobrol dalam tentang masalah ini, jangan sambil lalu pas lagi jagong anak-anak playdate. Duduk dulu di tempat tenang, sambil ngopi atau ngeteh, sediain waktu beberapa jam. Kalau ngga ya cuma bakal sekadar nempelin label baru ke muka wajah-wajah baru.
Bahkan bicara tentang ini di instagram kesannya konyol dengan caption yang hanya dibatasi 2200 karakter. Tapi ya manfaatkan saja media yang ada. Mau ngomong pakai lidah & mulut juga ada batasnya sampai kapan tenggorokan kering dan mulut berbusa.
Begini ya, ini bicara dari sudut pandang meditasi sekuler yang atheistik ya.
Kalau bicara tentang arti Tuhan dalam ranah materi (materialistik), biasanya kita bicara tentang sosok yang berada di luar diri. Sosok Maha Kuasa yang menciptakan dan mengatur jalannya alam semesta, yang juga terpisah dan berada di luar diri ini.
Pemisahan tentang Tuhan-Ciptaan, Dalam-Luar, Mikro-Makro, Penyelamat-Yang Diselamatkan, Ada-Tidak Ada, ini yang menurutku pada akhirnya jadi akar ilusi dualitas kita sehari-hari. Secara personal kalau aku ditanya tentang Tuhan sebagai suatu sosok di luar diri, sebagai suatu figur yang terpisah, sebagai Sang Pencipta, sebagai Penyelamat, dll, aku akan dengan tenang menjawab, aku ya atheist (dalam sudut pandang materialist).
Tapi bukan berarti dengan label cetek itu maka aku tidak tunduk dan pasrah sepasrah-pasrahnya dengan keajaiban Semesta, keagungan akan Waktu, bahwa Saat Ini indah, dan Hidup adalah mukjizat.
Kalau bicara tentang Tuhan sebagai sinonim dari Cinta Kasih, Realitas Sejati, Pembebasan Diri, Pencerahan, Hidayah, aku setuju dan memeluk Ketuhanan dengan sepenuh hati.
Pengalaman atas diskusi dan pertanyaan eksistensi Ketuhanan menurutku berada di ranah non-dualitas. Bukan cuma bicara tentang ada dan tidak ada, lalu bertanya dan memberi label. Ini kalau dilanjut bisa panjang, cuma sekarang sudah 2196 karakter, maaf ya.
*Kisah ini berdasarkan pegalaman pribadi tiba-tiba ditanyain “agamamu apa” pas lagi jagong playdate bareng seorang bapak yang baru aku kenal. Ngga di Indonesia, ngga di Australia, manusia ya sama aja, ngga bisa lepas dari label. May we all be happy and free!